Rumah Empat Kamar
07.44.00
Di rumah itu, aku
berbahagia sebagai minoritas
Kaum marjinal yang
kalah kompetitif dengan kalangan borjuis kampus, namun bebas tanpa batas
Di rumah itu, aku
belajar kepemilikan dalam ideologi bersama
Benda-benda boleh
dipakai siapa saja, kecuali sikat gigi dan celana dalam
Di rumah itu, aku
belajar bahwa toleransi harus tertanam dalam hati
Tidak peduli dari
rahim mana engkau lahir, hindu-buddha-islam-kristiani
Di rumah itu, aku
pernah merasa betapa menyakitkannya sebuah keapatisan
Di rumah itu, aku
memupuk mimpi menjadi seorang sufi
Namun belakangan
merasa, mimpi menjadi sufi hanyalah nafsu karena ingin diakui
Di rumah itu, aku
larutkan diri dalam setiap diskusi
Diskusi yang baru
berhenti tatkala sang surya mulai menyinari baju-bajuku yang baru dicuci
kemarin pagi
Di rumah itu, aku
sering mudah terlelap dalam kamar gelap yang senyap, pengap, lembab
Hingga aku terlupa
akan tugas kuliah yang semakin hari membuat jantung semakin berdegap
Di rumah itu, aku
mengejar cinta dan cita
Hanya untuk sekedar bergembira atas luka lama
Di rumah itu, rumah empat kamar yang terlalu banyak kenangan
Ah... Sudahlah kawan, semoga lain kali
bisa lagi aku ceritakan
Yogyakarta, 11 Mei 2014
0 komentar